Buku Harian
fungsi pengarsipan diri sebagai bentuk keabadian memetika
Pernahkah kita terbangun di tengah malam dan tiba-tiba disergap satu pikiran yang agak suram: suatu saat nanti, tidak ada lagi orang yang mengingat nama kita. Terdengar sedikit melodramatis, memang. Tapi coba ingat-ingat lagi, berapa banyak foto makanan, keluh kesah di media sosial, atau coretan acak yang kita buat minggu ini? Ratusan? Kita sering menyebutnya sebagai kebiasaan modern. Terlalu online. Tapi sebenarnya, dorongan ini sudah ada sejak manusia pertama kali mengecapkan telapak tangan bersimbah pigmen merah di dinding gua purba. Kita punya obsesi yang luar biasa besar untuk meninggalkan jejak. Dan salah satu bentuk paling intim dari obsesi ini adalah sesuatu yang sering kita remehkan: buku harian. Mari kita singkirkan dulu bayangan soal buku bergembok kecil berisi curhatan patah hati masa remaja. Ada sains, sejarah, dan alasan psikologis yang jauh lebih gelap—sekaligus lebih indah—di balik mengapa kita begitu terobsesi mencatat kehidupan kita sendiri.
Mari kita mundur sejenak menyusuri lorong sejarah. Kaisar Romawi Marcus Aurelius menulis buku Meditations di sela-sela peperangan berdarah, murni untuk menenangkan isi kepalanya sendiri. Anne Frank menulis buku hariannya di ruang persembunyian yang pengap, menciptakan dunia di mana dia bisa bernapas bebas. Secara psikologis, tindakan mereka sangat masuk akal. Otak kita adalah mesin pemroses informasi yang sangat berisik. Ahli psikologi menyebut proses menulis sebagai affect labeling—memberi nama pada emosi. Saat kita memindahkan badai di kepala ke atas secarik kertas, aktivitas di amygdala (pusat ketakutan dan stres di otak) menurun drastis. Menulis buku harian adalah bentuk terapi paling tua di dunia. Kita memisahkan "si pengamat" dan "si penderita" di dalam diri kita. Tapi, tunggu dulu. Kalau tujuannya hanya untuk menenangkan pikiran hari ini, mengapa kita sering kali merapikan tulisan kita? Mengapa kita mengarsipkan diri kita seolah-olah sedang menyiapkan sebuah museum miniatur tentang siapa kita?
Di sinilah semuanya mulai terasa sedikit janggal dan memancing rasa penasaran. Banyak dari kita menulis buku harian dengan klaim tegas: "ini rahasia, tidak boleh dibaca siapa pun". Tapi tanpa sadar, kita menuliskannya dengan struktur naratif yang rapi. Kita menjelaskan siapa tokoh antagonisnya (bos yang menyebalkan), konflik hari itu (ketinggalan kereta), dan resolusinya. Seolah-olah, ada pembaca tak terlihat di masa depan yang sedang kita ajak bicara. Jika kita jujur pada diri sendiri, pengarsipan diri ini bukan sekadar alat pelarian dari stres. Ada kecemasan eksistensial yang diam-diam sedang kita lawan. Kita tahu betul bahwa tubuh biologis kita punya tanggal kedaluwarsa. Sel-sel kita akan menua, organ kita akan berhenti bekerja, dan DNA kita mungkin hanya akan bertahan dalam bentuk persentase kecil di generasi-generasi berikutnya. Lalu, bagaimana caranya agar esensi "kita"—kepribadian, tawa, pemikiran, dan keunikan kita—bisa selamat dari kematian mutlak? Ada sebuah teori sains hardcore yang bisa menjawab teka-teki ini, dan ironisnya, ini tidak ada hubungannya dengan sel atau darah.
Jawabannya bersembunyi di balik konsep keabadian memetika. Pada tahun 1976, ahli biologi evolusioner Richard Dawkins memperkenalkan sebuah ide brilian: jika unit dasar pewarisan biologis adalah gene (gen), maka unit dasar pewarisan budaya adalah meme (mem). Jangan bayangkan meme sekadar sebagai gambar lucu di internet. Meme adalah ide, gagasan, kebiasaan, atau cerita yang melompat dari satu otak ke otak lain. Manusia bukan sekadar kendaraan bagi gen, kita adalah mesin pembawa meme. Dan buku harian? Ia adalah kapsul waktu memetik yang paling murni. Saat kita menulis apa yang kita rasakan, kita sedang mentransfer kesadaran kita ke dalam medium non-biologis. Kita sedang membuat back-up data dari jiwa kita. Kertas, tinta, atau peladen awan digital tidak bisa mati karena serangan jantung. Dengan mengarsipkan diri, kita sedang meretas proses evolusi. Kita mengubah diri kita dari makhluk fana berbasis karbon, menjadi entitas abadi berbasis informasi. Gaya bahasa kita, pemikiran konyol kita, atau keluhan remeh kita—semua itu adalah meme kehidupan yang kita lempar ke masa depan, menunggu untuk dihidupkan kembali oleh otak siapa pun yang membacanya kelak.
Pada akhirnya, menyadari hal ini seharusnya tidak membuat kita merasa cemas, melainkan sangat lega dan berdaya. Teman-teman, kita tidak perlu menjadi seorang kaisar Romawi, pahlawan revolusi, atau selebritas dunia untuk berhak mengarsipkan diri. Bukankah sangat menenangkan mengetahui bahwa kita punya kendali atas bagaimana kita akan diingat? Mulailah menulis. Catatlah apa yang membuat kita tertawa sampai perut sakit hari ini. Tuliskan daftar lagu favorit bulan ini. Ketiklah ketakutan-ketakutan kecil yang tidak berani kita ucapkan keras-keras kepada siapa pun. Itu semua bukan sekadar tulisan acak tanpa makna. Itu adalah bukti fosil dari kesadaran kita yang sedang kita selamatkan dari hukum waktu yang kejam. Saat kita menulis buku harian, kita tidak hanya sedang merawat kewarasan diri kita hari ini. Kita sedang mengulurkan tangan melintasi waktu, menepuk pundak seseorang di masa depan, dan berbisik lembut: "Hei, aku pernah hidup di sini. Dan aku nyata."